Nutrix Journal
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix
<p align="justify"><strong>Publication Frequency: April & October (2 issues/year)</strong></p> <p align="justify"><strong>DOI Prefix: <a href="https://search.crossref.org/?q=nutrix+journal">10.37771/nj</a> Registered by Crossref</strong></p> <p><strong>ISSN Print: <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2579-4426">2579-4426</a></strong></p> <p><strong>ISSN Online: <a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2580-6432">2580-6432</a></strong></p> <p><strong>Editor in Chief: <a href="https://scholar.google.com/citations?hl=en&user=BGMLxm8AAAAJ">Ns. James Richard Maramis, S.Kep., MAN.</a></strong></p> <p><strong>Managing Editor: <a href="https://scholar.google.com/citations?user=yeY-PPYAAAAJ&hl=en">Ns. I Gede Purnawinadi, S.Kep., M.Kes.</a></strong></p> <p><strong>Publisher: <a href="https://www.unklab.ac.id/fakultas-keperawatan/">Fakultas Keperawatan – Universitas Klabat</a></strong></p> <p><strong>Accreditation: <a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/10496">SINTA 3 (S3)</a></strong></p> <p><strong>Contact: nutrix@unklab.ac.id</strong></p> <p align="justify"><strong>Nutrix Journal</strong> is an official peer-reviewed research journal published by <a href="https://www.unklab.ac.id/fakultas-keperawatan/" target="_blank" rel="noopener">The Faculty of Nursing, Universitas Klabat (UNKLAB)</a> in collaboration with <a href="https://drive.google.com/file/d/12jgjdKM_Aca8G0QOd3GnceJj_RXJzvx6/view" target="_blank" rel="noopener">The Indonesian National Nurses Association (INNA) of North Sulawesi Province</a>. This journal aims to promote enhancement in nursing and health care through the dissemination of the latest research findings. NJ covers a wide range of health research especially nursing topics such as nursing education, clinical practice, nursing information technology, advanced nursing issue, and policy related to the nursing profession. Nutrix Journal intended readership includes nurse educators, researchers, managers, and nurse practitioners at all levels.</p>Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabaten-USNutrix Journal2579-4426Efektivitas Terapi Murottal Al-Quran dan Meditasi terhadap Kesehatan Mental untuk Remaja dengan Adiksi Smartphone
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1387
<p><em>Adolescents are vulnerable to mental health disorders resulting from excessive smartphone use, which can trigger stress, anxiety, and depression, as well as affect behavior and psychological well-being. This study examined the effectiveness of a combination of murottal Al-Qur’an therapy and meditation on the mental health of adolescents with smartphone addiction using a quasi-experimental design with a non-equivalent control group approach. The study was conducted at MTS Al-Ma’arif Singosari from May to July 2025. The sample consisted of two groups intervention and control each comprising 15 respondents selected purposively. The intervention was administered for four weeks, and levels of depression, anxiety, and stress were measured before and after the intervention using the DASS-21 questionnaire. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank test, which revealed a significant decrease in all three variables in the intervention group (p < 0.05), while the control group showed only minor changes. These findings indicate that the combination of murottal Al-Qur’an and meditation is effective in reducing mental health disorders among adolescents with smartphone addiction and can be considered a simple and beneficial non-pharmacological method to improve mental health in school settings. </em></p> <p>Remaja rentan mengalami gangguan kesehatan mental sebagai akibat penggunaan <em>smartphone</em> yang berlebihan, yang berpotensi memicu stres, kecemasan, dan depresi serta memengaruhi perilaku dan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini menelaah efektivitas kombinasi terapi murottal Al-Qur’an dan meditasi terhadap kesehatan mental remaja dengan adiksi <em>smartphone</em> menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan kelompok kontrol non-ekivalen, dilaksanakan di MTS Al-Ma’arif Singosari pada periode Mei–Juli 2025. Sampel terdiri dari dua kelompok intervensi dan kontrol masing-masing 15 responden yang dipilih secara purposive; intervensi diberikan selama empat minggu dan tingkat depresi, kecemasan, serta stres diukur sebelum dan sesudah intervensi dengan kuesioner DASS-21. Analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank menunjukkan penurunan yang signifikan pada ketiga variabel pada kelompok perlakuan (p < 0,05), sementara kelompok kontrol hanya mengalami perubahan yang lebih kecil. Temuan ini mengindikasikan bahwa kombinasi murottal Al-Qur’an dan meditasi efektif mengurangi gangguan kesehatan mental pada remaja dengan adiksi <em>smartphone</em>, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai metode non-farmakologis sederhana dan bermanfaat untuk peningkatan kesehatan mental di lingkungan sekolah.</p>Rosyidah AlfitriRani Safitri Safitri Nila Widya Keswara
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-222026-04-221011910.37771/nj.v10i1.1387Hubungan Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi dengan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1452
<p><em>Hypertension remains a major contributor to illness and death worldwide, and the limited success in achieving optimal blood pressure control is closely linked to patients’ inconsistent use of prescribed medications. This study seeks to explore the association between adherence to antihypertensive therapy and blood pressure outcomes among individuals diagnosed with hypertension at the Pekuncen I Community Health Centre in Banyumas Regency. Employing an analytical case-control observational design, the research involved 88 Prolanis participants whose adherence levels were evaluated using the MMAS-8 instrument, while blood pressure categories were determined based on JNC VIII criteria. Participants were selected through purposive sampling, and the relationship between variables was examined using the Chi-Square test to ensure statistical rigor. Findings revealed that 65.91% of respondents demonstrated adequate adherence, whereas 64.77% successfully maintained controlled blood pressure levels, highlighting a significant statistical association between adherence and blood pressure regulation (p = 0.000). Furthermore, individuals categorized as nonadherent exhibited a substantially higher likelihood 31 times greater of experiencing uncontrolled blood pressure (OR = 31, 95% CI: 4.508–213.168), underscoring the clinical importance of medication compliance. Overall, the study emphasizes that consistent adherence to antihypertensive therapy is a critical determinant of successful hypertension management and should be strengthened through targeted education, continuous monitoring, and supportive interventions from healthcare professionals.</em></p> <p>Hipertensi merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap angka kesakitan dan kematian di seluruh dunia, di mana rendahnya tingkat pengendalian penyakit ini kerap berkaitan dengan masalah ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat. Penelitian ini berupaya menggambarkan keterkaitan antara kepatuhan penggunaan obat antihipertensi dan kondisi tekanan darah pada penderita hipertensi yang terdaftar di Puskesmas Pekuncen I Kabupaten Banyumas. Desain yang digunakan yaitu observasional analitik tipe <em>Case-control</em> pada 88 peserta Prolanis, tingkat kepatuhan dievaluasi melalui instrumen MMAS-8, sedangkan status tekanan darah ditentukan berdasarkan kriteria JNC VIII. Proses pemilihan responden dilakukan melalui teknik purposive sampling, dan analisis hubungan variabel menggunakan uji <em>Chi-Square</em>. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa 65,91% peserta menunjukkan kepatuhan yang baik, sementara 64,77% berhasil mempertahankan tekanan darah dalam kategori terkontrol. Analisis lebih lanjut mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara kepatuhan dan kontrol tekanan darah (<em>p-value </em>= 0,000), bahkan menunjukkan bahwa individu yang tidak patuh memiliki kemungkinan hingga 31 kali lebih besar untuk mengalami tekanan darah tidak terkontrol (OR = 31, 95% CI: 4,508-213,168). Secara keseluruhan, hasil ini menegaskan bahwa kepatuhan minum obat menjadi elemen kunci dalam keberhasilan pengelolaan hipertensi, sehingga memerlukan peningkatan melalui edukasi berkelanjutan dan dukungan aktif dari tenaga kesehatan.</p>Noormalita Dewi Riana Sari SugiantoNur IsnainiTina Muzaenah
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-222026-04-22101102210.37771/nj.v10i1.1452Play-Based Emotional Training and Engagement for Normalizing Distress (Pretend) in Preschool Children at Provincial General Hospital of North Sulawesi
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1464
<p><em>Hospitalization can trigger emotional distress in preschool children due to separation, unfamiliar surroundings, and invasive procedures. This study aimed to determine the effectiveness of Play-Based Emotional Training and Engagement for Normalizing Distress (PRETEND) in reducing emotional distress. A quasi-experimental design with a pretest-posttest control group involved 44 children aged 3–5 years at the North Sulawesi Provincial Hospital (2025), divided into intervention (n=22) and control (n=22) groups. Distress was measured using the OSBD-R, as well as questionnaires on child involvement, parental satisfaction, and perceived benefits. The results showed a significant decrease in distress scores in the intervention group from 6.77 ± 1.27 to 0.45 ± 0.67, while the control group remained high (5.36 ± 1.56). Child involvement was classified as moderate–high, parental satisfaction was very high, and program perceptions were very positive. It was concluded that PRETEND was effective in reducing emotional distress and increasing parental involvement and satisfaction. This intervention is recommended as part of child closure practice, with further research to assess long-term effects.</em></p> <p>Hospitalisasi dapat memicu distress emosional pada anak pra-sekolah akibat perpisahan, lingkungan asing, dan tindakan invasif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas <em>Play-Based Emotional Training and Engagement for Normalizing Distress (PRETEND)</em> dalam menurunkan distress emosional. Desain quasi-eksperimen dengan pretest-posttest kelompok kontrol melibatkan 44 anak usia 3–5 tahun di RSUD Provinsi Sulawesi Utara (2025), yang dibagi menjadi kelompok intervensi (n=22) dan kontrol (n=22). Distress diukur menggunakan OSBD-R, serta kuesioner keterlibatan anak, kepuasan orang tua, dan persepsi manfaat. Hasil menunjukkan penurunan signifikan skor distress pada kelompok intervensi dari 6,77 ± 1,27 menjadi 0,45 ± 0,67, sementara kelompok kontrol tetap tinggi (5,36 ± 1,56). Keterlibatan anak tergolong sedang–tinggi, kepuasan orang tua sangat tinggi, dan persepsi program sangat positif. Disimpulkan bahwa PRETEND efektif menurunkan distress emosional dan meningkatkan keterlibatan serta kepuasan orang tua. Intervensi ini direkomendasikan sebagai bagian praktik keperawatan anak, dengan penelitian lanjutan untuk menilai efek jangka panjang.</p>Winarsi Pricilya MolintaoJulita Roslia LegiBaithesda
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-222026-04-22101233110.37771/nj.v10i1.1464Whatsapp-Based Supervision by Ward Head Nurses to Improve Compliance With Standard Precautions: A Quasi-Experimental Study
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1448
<p><em>Standard precautions are crucial for preventing nosocomial infections, but nurse compliance remains suboptimal. This study aimed to evaluate the effectiveness of WhatsApp-based monitoring in improving nurse compliance. A quasi-experimental design with a control group involved 30 nurses in the inpatient ward of a hospital in Tomohon (2025), divided into an intervention (n=15) and a control (n=15) group. The four-week intervention included daily reminders, educational materials, discussions, and feedback via WhatsApp, while the control group received standard briefings. Compliance was measured through observation using WHO and CDC checklists and analyzed using a t-test (p < 0.05). Results showed no initial differences between the groups, but significant improvements in both groups after the intervention (p < 0.001), with better outcomes in the intervention group (p = 0.04). The intervention was deemed beneficial by participants and demonstrated that WhatsApp is effective as a simple and cost-effective monitoring medium. Integration of this approach is recommended to improve patient safety and prevent infections in healthcare facilities.</em></p> <p>Kewaspadaan standar penting dalam mencegah infeksi nosokomial, namun kepatuhan perawat masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pengawasan berbasis WhatsApp dalam meningkatkan kepatuhan perawat. Desain quasi-eksperimental dengan kelompok kontrol melibatkan 30 perawat di ruang rawat inap rumah sakit di Tomohon (2025), yang dibagi menjadi kelompok intervensi (n=15) dan kontrol (n=15). Intervensi selama empat minggu mencakup pengingat harian, materi edukasi, diskusi, dan umpan balik melalui WhatsApp, sedangkan kelompok kontrol menerima briefing standar. Kepatuhan diukur melalui observasi menggunakan <em>checklist</em> WHO dan CDC, serta dianalisis dengan uji t (p < 0,05). Hasil menunjukkan tidak ada perbedaan awal antara kelompok, namun terjadi peningkatan signifikan pada keduanya setelah intervensi (p < 0,001), dengan hasil lebih baik pada kelompok intervensi (p = 0,04). Intervensi ini dinilai bermanfaat oleh peserta dan menunjukkan bahwa WhatsApp efektif sebagai media pengawasan yang sederhana dan hemat biaya. Integrasi pendekatan ini direkomendasikan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan mencegah infeksi di fasilitas kesehatan.</p>Deetje Sientje SupitOlivia BawaedaAutry Alvian Mandagi
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-222026-04-22101323910.37771/nj.v10i1.1448Self-Esteem dan Kepatuhan Mengonsumsi Obat Antiretroviral pada Orang dengan HIV
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1436
<p><em>The success of antiretroviral therapy (ART) depends on patients’ adherence and psychological factors such as self-esteem. This study aimed to examine the relationship between self-esteem and adherence to antiretroviral medication among people living with HIV (PLHIV) in the Airmadidi Primary Health Center area. A descriptive correlational study with a cross-sectional approach was conducted involving 38 participants selected through consecutive sampling. Self-esteem was measured using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), while adherence was assessed using the Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). The results showed no significant relationship between self-esteem and medication adherence (p = 0.437; p > 0.05). These findings indicate that self-esteem was not associated with ART adherence. Patients are encouraged to maintain consistent adherence, and future studies should explore other factors influencing adherence, including social support, knowledge, and medication side effects. </em></p> <p>Keberhasilan terapi antiretroviral ditentukan oleh kepatuhan penderita dalam menjalani pengobatan secara tepat dan berkelanjutan, serta self-esteem yang merupakan penilaian individu terhadap kualitas dirinya sendiri yang diekspresikan dalam bentuk sikap sehari-hari. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan self-esteem dengan kepatuhan mengonsumsi obat antiretroviral pada orang dengan HIV di wilayah kerja Puskesmas Airmadidi. Jenis penelitian adalah deskriptif korelasi dengan 38 sampel yang diambil menggunakan teknik concecutive sampling, alat mengukur Self-esteem menggunakan kuesioner Rosenberg Self-esteem Scale sedangkan mengukur kepatuhan menggunakan Morisky Medication Adherence Scale-8. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara self-esteem dengan kepatuhan mengonsumsi obat antiretroviral pada orang dengan HIV dengan nilai p-value=0,437>0,05. Dengan demikian self-esteem tidak berhubungan dengan kepatuhan mengonsumsi antiretroviral. Direkomendasikan untuk responden tetap menjaga kepatuhan mengonsumsi obat antiretroviral secara teratur walaupun kondisi psikologis berbeda-beda, peneliti selanjutnya diharapkan mengeksplorasi faktor yang dapat berpengaruh pada kepatuhan seperti dukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan, tingkat pengetahuan dan efek samping obat.</p>Amelia Beactrix KoloayAndreas Rantepadang
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-232026-04-23101404710.37771/nj.v10i1.1436Hubungan Stimulasi Orang Tua dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia 1 Tahun di Desa Pinilih Kecamatan Dimembe
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1438
<p><em>To support language development in one year old children, stimulation from parents both visual and verbal is essential. This study aimed to determine the relationship between parental stimulation and language development in one-year-old children in Pinilih Village, Dimembe District. The research employed a quantitative method with a descriptive correlational approach. Sampling was conducted using the convenience sampling technique with a total of 60 respondents. The results showed that 54 parents (90.0%) provided good stimulation, and 59 children (98.3%) had age-appropriate language development. The Spearman correlation test revealed a p-value of 0.01 and r = 0.426, indicating a significant relationship between parental stimulation and language development among one-year-old children in Pinilih Village. The correlation strength was categorized as moderate with a positive direction, meaning that higher levels of parental stimulation were associated with better language development in children. Future researchers are recommended to include additional factors that may influence children’s language development, such as child and maternal characteristics, genetic factors, social environment, parental education, limited language exposure, and lack of parental support in providing stimulation. </em></p> <p>Untuk membantu perkembangan bahasa anak usia 1 tahun, maka dibutuhkan stimulasi dari orang tua yaitu stimulasi visual dan stimulasi verbal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stimulasi orang tua terhadap perkembangan bahasa anak usia 1 tahun di desa Pinilih kecamatan Dimembe. Metode penelitian yang dilakukan adalah kuantitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif korelasi, teknik pengambilan sampel yaitu Convenience Sampling dengan jumlah responden 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan 54 orang tua (90,0%) memberikan stimulasi yang baik. Sementara itu, sebanyak 59 anak (98,3%) memiliki perkembangan bahasa yang sesuai dengan usianya. Hasil uji korelasi menggunakan spearman correlation diperoleh nilai p value = 0,01 dan r = 0,426. Hasil ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara stimulasi orang tua terhadap perkembangan bahasa anak usia 1 tahun di Desa Pinilih Kecamatan Dimembe. Kekuatan hubungan berada pada kategori sedang dengan arah korelasi positif, yang berarti semakin baik stimulasi yang diberikan oleh orang tua, maka semakin baik pula perkembangan bahasa anak. Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya dapat menambahkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, seperti faktor karakteristik anak dan karakteristik ibu, faktor genetik, lingkungan sosial, pendidikan orang tua, keterbatasan rangsangan bahasa dan kurangnya dukungan orang tua dalam menstimulasi anak.</p>Kezia Syalom Christania SendowNova Gerungan
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-232026-04-23101485610.37771/nj.v10i1.1438Correlation Between Body Mass Index, Blood Pressure, Uric Acid, Total Cholesterol Levels and Age
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1474
<p><em>Obesity increases blood pressure, thereby increasing the risk of heart disease and is recognized as a major factor in the development of hypercholesterolemia and increased uric acid levels. This study aimed to evaluate the relationship between Body Mass Index (BMI), serum uric acid levels, total cholesterol, systolic and diastolic blood pressure, and age. Using a purposive sampling method, 49 respondents participated in a descriptive correlation study. Blood sample analysis was performed to determine total cholesterol and uric acid levels, as well as blood pressure and body mass index (BMI) measurements. Univariate and bivariate analyses based on correlation tests were part of the analytical strategy. A significant relationship of 0.014 < 0.05 between gender and cholesterol was observed. Age and systolic blood pressure variables were statistically significant (p < 0.05). The statistical significance of systolic and diastolic blood pressure was determined at 0.000 < 0.05. With a significance value of 0.006 < 0.05, there was a statistically significant relationship between diastolic blood pressure and body mass index. The statistical significance of uric acid and age was found to be 0.040 < 0.05. Managing lifestyle and maintaining a healthy weight are crucial in preventing hyperuricemia, high blood pressure, and lipid abnormalities.</em></p> <p>Obesitas meningkatkan tekanan darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan diakui sebagai faktor utama dalam perkembangan hiperkolesterolemia dan peningkatan kadar asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT), kadar asam urat serum, kolesterol total, tekanan darah sistolik dan diastolik, serta usia. Dengan menggunakan metode sampling purposif, 49 responden berpartisipasi dalam studi korelasi deskriptif. Analisis sampel darah dilakukan untuk menentukan kadar kolesterol total dan asam urat, serta pengukuran tekanan darah dan indeks massa tubuh (IMT). Analisis univariat dan bivariat berdasarkan uji korelasi menjadi bagian dari strategi analitis. Hubungan yang signifikan sebesar 0,014 < 0,05 antara jenis kelamin dan kolesterol diamati. Variabel usia dan tekanan darah sistolik terbukti secara statistik signifikan (p < 0,05). Signifikansi statistik tekanan darah sistolik dan diastolik ditentukan sebesar 0,000 < 0,05. Dengan nilai signifikansi 0,006 < 0,05, terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara tekanan darah diastolik dan indeks massa tubuh. Signifikansi statistik asam urat dan usia ditemukan sebesar 0,040 < 0,05. Mengelola gaya hidup dan menjaga berat badan yang sehat sangat penting dalam mencegah hiperurisemia, tekanan darah tinggi, dan kelainan lipid.</p>Ernawaty Siagian
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-232026-04-23101576610.37771/nj.v10i1.1474Karakteristik Bio Impedence Analysis Mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1478
<p><em>Technological developments have led to an increase in sedentary lifestyles and unhealthy eating habits, which can affect physical fitness and potentially disrupt students' health. This study aimed to assess the bioimpedance analysis characteristics of new students at the Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya. The method used was a descriptive</em> <em>observational approach with a quantitative </em><em>design</em><em>, involving 74 active students from the Faculty of Medicine. Research data were collected using electronic forms and a bioimpedance analyzer, then entered into Ms. Excel and analyzed for characteristics using SPSS. The results showed that the </em><em>mean </em><em>body mass index, calorie requirements, visceral fat, body age, and muscle mass were </em><em>higher </em><em>in male students, while the average elements of total fat and subcutaneous fat were higher in female students. As many as 26.9% of male students are classified as obese, and 23.1% have high visceral fat. As many as 42.3% of female students are classified as having very high total fat. Approximately 23.1% of male students have a high muscle mass. In conclusion, male and female students show varied bioimpedance analysis characteristics due to various influencing factors. This study highlights important notes to consider in maintaining students' physical fitness to prevent degenerative diseases.</em></p> <p>Perkembangan teknologi menimbulkan peningkatan gaya hidup sedentari dan pola makan tidak sehat, yang dapat mempengaruhi kebugaran tubuh dan berpotensi mengganggu kesehatan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menilai karakteristik Bio Impedance Analysis mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif observasional dengan desain kuantitatif, yang diikuti oleh mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran sebanyak 74 mahasiswa. Data penelitian dikumpulkan menggunakan formulir elektronik dan alat Bio Impedance Analyzer, lalu data dimasukkan ke dalam aplikasi Microsoft Excel dan dianalisis karakteristiknya menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan rerata elemen indeks massa tubuh, kebutuhan kalori, lemak viseral, usia tubuh dan massa otot lebih dominan pada mahasiswa laki-laki. Sedangkan rerata elemen lemak total dan lemak kulit lebih tinggi pada kelompok mahasiswa perempuan. Sebanyak 26,9% mahasiswa laki-laki memiliki status obesitas dan sebanyak 23,1% tergolong memiliki lemak viseral yang tinggi. Sebanyak 42,3% mahasiswa perempuan tergolong memiliki lemak total yang sangat tinggi. Sebanyak 23,1% mahasiswa laki-laki memiliki massa otot yang tergolong tinggi. Kesimpulannya, mahasiswa laki-laki dan perempuan menunjukkan karakteristik Bio Impedance Analysis yang bervariasi akibat berbagai faktor yang mempengaruhinya. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan kepada mahasiswa untuk memonitor komposisi tubuh guna mencegah penyakit-penyakit degeneratif.</p>M. Iman Tarmizi ThaherCatherine Dwi Augusthi PutriArwan Bin Laeto
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-232026-04-23101677510.37771/nj.v10i1.1478Faktor-Faktor Penentu Asupan Kalori dalam Diet pada Penderita Diabetes Gestasional: Analisis PLS-SEM Terintegrasi
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1518
<p><em>Dietary intake plays a critical role in metabolic health, particularly among people with Gestational Diabetes Mellitus, where inappropriate nutritional patterns may increase the risk of adverse pregnancy outcomes. This study aimed to examine the determinants of dietary caloric intake among individuals with gestational diabetes using an integrated structural model. A cross-sectional study was conducted using secondary data from a publicly available dataset on the Kaggle platform (n = 5,165). Variables included body mass index (BMI), glycated hemoglobin (HbA1c), lipid profile, metabolic indicators, blood pressure, and age. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) with bootstrapping. Measurement model evaluation was conducted only for multi-indicator constructs using composite reliability, average variance extracted (AVE), and discriminant validity (HTMT), while single-indicator variables were treated as observed variables. The model demonstrated strong explanatory power (R² = 0.925). Lipid profile exhibited the strongest positive association with dietary intake (β = 0.769, p < 0.001), followed by BMI (β = 0.182, p < 0.001). Age showed a small negative effect (β = -0.062, p < 0.05), whereas glycemic control, metabolic factors, and blood pressure were not statistically significant. Dietary intake among people with gestational diabetes is primarily influenced by lipid and anthropometric factors, highlighting the importance of metabolism-focused nutritional interventions.</em></p> <p>Asupan makanan memainkan peran penting dalam kesehatan metabolik, khususnya pada penderita Diabetes Gestational, di mana pola nutrisi yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko hasil kehamilan yang buruk. Studi ini bertujuan untuk meneliti faktor penentu asupan kalori makanan pada penderita diabetes gestasional menggunakan model struktural terintegrasi. Studi potong lintang dilakukan menggunakan data sekunder dari dataset Kaggle yang tersedia untuk umum (n = 5,165). Variabel yang digunakan meliputi indeks massa tubuh (IMT), HbA1c, profil lipid, indikator metabolik, tekanan darah, dan usia. Data dianalisis menggunakan <em>Partial Least Squares Structural Equation Modeling</em> (PLS-SEM) dengan <em>bootstrapping</em>. Evaluasi model pengukuran dilakukan hanya pada konstruk multi-indikator menggunakan <em>composite reliability, average variance extracted</em> (AVE), dan <em>discriminant validity</em> (HTMT), sementara variabel indikator tunggal diperlakukan sebagai variabel teramati. Model menunjukkan daya penjelas yang kuat (R² = .925). Profil lipid menunjukkan hubungan positif terkuat dengan asupan makanan (β = .769, p < .001), diikuti oleh IMT (β = .182, p < .001). Usia memiliki efek negatif yang kecil (β = -.062, p < .05), sedangkan kontrol glikemik, faktor metabolik, dan tekanan darah tidak signifikan secara statistik. Asupan makanan pada penderita diabetes gestational terutama dipengaruhi oleh faktor lipid dan antropometrik, yang menyoroti pentingnya intervensi nutrisi yang berfokus pada metabolisme.</p>Denny Maurits Ruku
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-232026-04-23101768610.37771/nj.v10i1.1518Harapan Masa Depan dalam Karier bagi Mahasiswa Keperawatan Tingkat Akhir setelah Belajar Bahasa Inggris
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1546
<p><em>English language proficiency is a crucial competency in global nursing and influences students' career orientation. Final-year nursing students are in the transition phase to the workforce, so their future career expectations are a crucial aspect to examine, especially after they have received English language instruction. This study aims to describe the future career expectations of final-year nursing students after English language instruction. This study used a quantitative descriptive design with a content analysis approach. A sample of 95 students was purposively selected. Data were collected through Google Forms using open-ended questions, then coded and analyzed descriptively with IBM SPSS Statistics. The results showed that the majority of respondents hoped to work abroad (44.2%), followed by communication skills with foreign patients (21.1%) and becoming a registered nurse abroad (13.7%). Some respondents also viewed English as an added value in their work (9.5%). English language learning plays a role in shaping nursing students' global career orientation. Strengthening English language learning based on global practice needs is needed. Future research is expected to examine the factors influencing career expectations and use analytical designs to strengthen the findings.</em></p> <p>Kemampuan bahasa Inggris menjadi kompetensi penting dalam keperawatan global dan memengaruhi orientasi karir mahasiswa. Mahasiswa keperawatan tingkat akhir berada pada fase transisi menuju dunia kerja, sehingga harapan masa depan dalam karir menjadi aspek penting yang perlu dikaji, terutama setelah mereka memperoleh pembelajaran bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan menggambarkan harapan masa depan karir mahasiswa keperawatan tingkat akhir setelah pembelajaran bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis konten. Sampel sebanyak 95 mahasiswa dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui Google Forms menggunakan pertanyaan terbuka, kemudian dikodekan dan dianalisis secara deskriptif dengan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berharap bekerja di luar negeri (44,2%), diikuti kemampuan komunikasi dengan pasien asing (21,1%) dan menjadi registered nurse di luar negeri (13,7%). Sebagian responden juga memandang bahasa Inggris sebagai nilai tambah dalam pekerjaan (9,5%). Pembelajaran bahasa Inggris berperan dalam membentuk orientasi karir global mahasiswa keperawatan. Perlu penguatan pembelajaran bahasa Inggris berbasis kebutuhan praktik global. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi harapan karir serta menggunakan desain analitik untuk memperkuat temuan.</p>Christa Vike LotulungI Gede Purnawinadi
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-232026-04-23101879510.37771/nj.v10i1.1546Evaluasi Diri Mahasiswa Keperawatan S1 tentang Penerapan Komunikasi Terapeutik setelah Praktik Klinis
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1541
<p><em>Therapeutic communication is a fundamental skill that nurses must possess to support the patient healing process and improve the quality of healthcare services. However, communication competence among nursing students still requires continuous evaluation, especially during clinical practice. This study aimed to describe the self-evaluation of undergraduate nursing students in applying therapeutic communication during the orientation, working, and termination phases after clinical practice. This study used a quantitative method with a descriptive design involving 75 third-year nursing students selected through purposive sampling. Data were analyzed using descriptive statistics with median values through SPSS version 26. The results showed that the implementation of therapeutic communication in all phases was categorized as good. The most dominant aspect was the use of therapeutic greetings at the beginning of the interaction (100%), while the less dominant aspects were explaining the duration of procedures and planning follow-up meetings with patients. Overall, nursing students were able to apply therapeutic communication effectively, indicating the success of clinical practice learning. The study implies that educational institutions and clinical instructors need to strengthen clinical guidance, particularly in time contracting and follow-up planning, and encourage students to conduct continuous self-reflection to improve therapeutic communication skills. </em></p> <p>Komunikasi terapeutik merupakan keterampilan dasar yang penting bagi perawat dalam mendukung proses penyembuhan pasien dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, namun kompetensi komunikasi mahasiswa masih perlu dievaluasi setelah praktik klinis. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan evaluasi diri mahasiswa keperawatan dalam menerapkan komunikasi terapeutik pada fase orientasi, kerja, dan terminasi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif terhadap 75 mahasiswa tingkat tiga yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner evaluasi diri dan dianalisis dengan statistik deskriptif menggunakan nilai median. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan komunikasi terapeutik pada seluruh fase berada dalam kategori baik, dengan aspek paling dominan adalah pemberian salam terapeutik, sedangkan aspek yang masih kurang adalah penjelasan durasi tindakan dan perencanaan pertemuan lanjutan. Disimpulkan bahwa mahasiswa mampu menerapkan komunikasi terapeutik dengan baik, sehingga diperlukan penguatan bimbingan klinis dan refleksi diri berkelanjutan.</p>Damai Zaya ZalukhuSapti Heru Widiyarti
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-242026-04-241019610810.37771/nj.v10i1.1541Evaluasi Pengetahuan Pra-Lansia dan Lansia tentang Hipertensi di GMAHK Parongpong
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1526
<p><em>Hypertension is one of the major health problems contributing to high morbidity and mortality, with prevalence increasing with age. This study aimed to analyze changes in hypertension knowledge among pre-elderly and elderly individuals after receiving health education using leaflet media. This research uses a pre-experimental design in the form of a one-group pre-test and post-test design. The sample consisted of 30 respondents aged 45 years and over, selected using a total sampling technique at GMAHK Parongpong. Data were collected using a hypertension knowledge questionnaire administered before and after the educational intervention. The results showed an increase in knowledge level after the intervention, as indicated by a shift in the distribution of knowledge categories from predominantly moderate in the pre-test to predominantly good in the post-test. The test results showed a statistically significant difference between pre-test and post-test scores (t = -5.913; p < 0.001). These findings indicate that health education using leaflet media was associated with an immediate increase in respondents’ knowledge after the intervention. However, the findings should be interpreted with caution due to the immediate post-test measurement, the absence of a control group, and the limited sample scope. Future studies are recommended to include a control group, a larger sample, and follow-up measurements to assess long-term knowledge retention. </em></p> <p>Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang berkontribusi terhadap tingginya morbiditas dan mortalitas, dengan prevalensi yang cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan pengetahuan tentang hipertensi pada pra-lansia dan lansia setelah diberikan edukasi kesehatan menggunakan media <em>leaflet</em>. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimen (<em>pre-experimental design</em>) berupa <em>one-group pre-test and post-test design.</em> Sampel penelitian berjumlah 30 responden berusia 45 tahun ke atas yang dipilih dengan teknik total sampling di GMAHK Parongpong. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan hipertensi sebelum dan sesudah intervensi edukasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tingkat pengetahuan setelah edukasi, yang ditandai dengan pergeseran distribusi kategori pengetahuan dari dominan cukup pada <em>pre-test</em> menjadi dominan baik pada post-test. Hasil uji menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara skor <em>pre-test</em> dan <em>post-test</em> (t = -5,913; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan menggunakan <em>leaflet</em> berhubungan dengan peningkatan pengetahuan responden segera setelah intervensi diberikan. Namun, hasil penelitian perlu ditafsirkan secara hati-hati karena pengukuran <em>post-test</em> dilakukan segera setelah edukasi, tidak adanya kelompok kontrol, serta keterbatasan cakupan sampel. Penelitian selanjutnya disarankan melibatkan kelompok kontrol, sampel yang lebih besar, dan pengukuran <em>follow-up</em> (tindak lanjut) untuk menilai retensi pengetahuan dalam jangka panjang.</p>Andreas HutaurukIdauli Simbolon
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-242026-04-2410110911610.37771/nj.v10i1.1526Hubungan Dukungan Sosial dengan Stres Akademik pada Mahasiswa Keperawatan Tingkat Akhir
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1530
<p><em>This study aimed to determine the relationship between social support and academic stress among final-year nursing students at Universitas Advent Surya Nusantara. This research used a quantitative approach with a descriptive analytic design and a cross-sectional method. The population consisted of 37 final-year nursing students, and total sampling was applied. Data were collected using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and the Perceived Academic Stress Scale (PASS). Data analysis was conducted using univariate and Spearman Rank correlation tests. The results showed that most respondents had high social support (73.0%) and experienced high academic stress (78.4%). The correlation analysis revealed a correlation coefficient (r) of 0.096 with a p-value of 0.574 (p > 0.05), indicating that there was no significant relationship between social support and academic stress. These findings suggest that social support is not the main factor influencing academic stress among final-year students. Therefore, efforts to reduce academic stress should also consider other factors such as coping ability, time management, and academic support from institutions. </em></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan stres akademik pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir di Universitas Advent Surya Nusantara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif analitik dan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 37 mahasiswa dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan Perceived Academic Stress Scale (PASS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki dukungan sosial tinggi (73,0%) dan mengalami stres akademik tinggi (78,4%). Hasil uji korelasi menunjukkan nilai r = 0,096 dengan p-value = 0,574 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan stres akademik. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sosial bukan merupakan faktor utama yang mempengaruhi stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir. Oleh karena itu, diperlukan perhatian terhadap faktor lain seperti kemampuan coping, manajemen waktu, dan dukungan akademik dari institusi Pendidikan.</p>Cindy NababanJeanny Rantung
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-242026-04-2410111712610.37771/nj.v10i1.1530Embracing Change in the Context of Paternal Postpartum Depression: A Concept Analysis Using the Walker and Avant Method
https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/nutrix/article/view/1498
<p><em>The transition to fatherhood requires significant emotional and behavioral adaptation, yet many fathers experience depression when unable to adjust to their new roles. Understanding "embracing change" as a concept is essential for developing effective nursing interventions to support paternal mental health and family well-being. Purpose, this concept analysis aims to clarify the meaning, defining characteristics, antecedents, and consequences of "embracing change" in the context of paternal postpartum depression and maternity nursing care. Method, The Walker and Avant systematic concept analysis method was employed to examine the concept through comprehensive literature review and case construction. Key Findings, "Embracing change" in the paternal context is characterized by three essential attributes: (1) strong self-awareness of emotions and changing identity, (2) a supportive environment providing empathy and validation, and (3) effective communication with partners and healthcare providers. Antecedents include resilience, adaptability, and prior coping experiences. Positive consequences include improved mental health, enhanced family relationships, and increased paternal involvement in child-rearing. This concept analysis provides nursing with a comprehensive framework for understanding how fathers adapt to parenthood and manage postpartum depression. Future research should develop interventions to support fathers in embracing change and examine long-term mental health outcomes. </em></p> <p>Transisi menjadi seorang ayah memerlukan adaptasi emosional dan perilaku yang signifikan, namun banyak ayah mengalami depresi ketika tidak dapat menyesuaikan diri dengan peran baru mereka. Memahami “menerima perubahan” sebagai sebuah konsep sangat penting untuk mengembangkan intervensi keperawatan yang efektif guna mendukung kesehatan mental ayah dan kesejahteraan keluarga. Analisis konsep ini bertujuan untuk memperjelas makna, karakteristik yang mendefinisikan, anteceden, dan konsekuensi dari “menerima perubahan” dalam konteks depresi postpartum paternal dan perawatan keperawatan maternitas. Metode analisis konsep sistematis Walker dan Avant digunakan untuk meneliti konsep tersebut melalui tinjauan pustaka yang komprehensif dan konstruksi kasus. Temuan Utama, “Menerima perubahan” dalam konteks paternal ditandai oleh tiga atribut penting: (1) kesadaran diri yang kuat terhadap emosi dan perubahan identitas, (2) lingkungan yang mendukung dengan empati dan validasi, dan (3) komunikasi yang efektif dengan pasangan dan penyedia layanan kesehatan. Anteceden mencakup ketahanan, adaptabilitas, dan pengalaman mengatasi sebelumnya. Konsekuensi positif termasuk kesehatan mental yang lebih baik, hubungan keluarga yang lebih baik, dan peningkatan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Analisis konsep ini memberikan perawat kerangka kerja yang komprehensif untuk memahami bagaimana para ayah beradaptasi dengan peran sebagai orang tua dan mengelola depresi pascapersalinan. Penelitian selanjutnya harus mengembangkan intervensi untuk mendukung para ayah dalam menerima perubahan dan meneliti hasil kesehatan mental jangka panjang.</p>Lea Andy Shintya
Copyright (c) 2026 Nutrix Journal
2026-04-242026-04-2410112713510.37771/nj.v10i1.1498