https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/issue/feed Klabat Journal of Nursing 2026-04-30T11:21:23+00:00 James Richard Maramis jmaramis@unklab.ac.id Open Journal Systems <p>Klabat Journal of Nursing (KJN) is the updated form of Jurnal Keperawatan Unklab (JKU) which was once published offline by&nbsp;<a href="https://www.unklab.ac.id/fakultas-keperawatan/">Faculty of Nursing of Universitas Klabat (UNKLAB)</a></p> https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1545 ANALISIS PERILAKU MENCARI INFORMASI KESEHATAN PADA ANGGOTA GEREJA MASEHI ADVENT HARI KETUJUH JEMAAT JURONG SINGAPURA 2026-04-17T03:57:53+00:00 Merelyn Palangan balynzhenkoms@gmail.com <p><em>This study is motivated by the increasing use of digital technology in accessing health information, which has transformed information-seeking patterns from conventional methods to internet-based sources. This shift creates new challenges, particularly in individuals’ ability to evaluate the credibility of online health information. This study aims to analyze health information-seeking behavior among members of the Seventh-day Adventist Church congregation in Jurong, Singapore. This research employed a descriptive quantitative approach using a survey method with a structured questionnaire adopted from the Health Information National Trends Survey (HINTS). A total of 111 respondents participated from a population of 250 church members with diverse backgrounds in age, education, and occupation. The instrument covered digital device usage, sources of health information, trust levels, and the ability to evaluate health information. Data were analyzed using descriptive and inferential statistics. The results show that 89.1% of respondents use the internet as their primary source of health information, with mobile phones as the dominant device (95.5%). Search engines are the most frequently used platform (88.2%). However, 58.2% of respondents reported difficulty in assessing the credibility of online health information. The conclusion of this study indicates that digital technology has a significant influence on health information-seeking behavior; however, this is not yet accompanied by adequate digital health literacy. Inferential analysis suggests an association between respondents’ characteristics and their patterns of seeking and evaluating health information. It is recommended to enhance digital health literacy through community-based education and strengthen the role of nurses in guiding individuals to critically evaluate online health information.</em></p> <p><em> </em>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam mengakses informasi kesehatan yang telah mengubah pola pencarian informasi dari metode konvensional menjadi berbasis internet. Perubahan ini menimbulkan tantangan baru, khususnya dalam kemampuan individu untuk mengevaluasi kredibilitas informasi kesehatan yang diperoleh secara online. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku pencarian informasi kesehatan pada anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Jemaat Jurong di Singapura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei berbasis kuesioner terstruktur yang diadopsi dari Health Information National Trends Survey (HINTS). Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 111 orang dari total populasi 250 anggota jemaat dengan latar belakang usia, pendidikan, dan pekerjaan yang beragam. Instrumen penelitian mencakup penggunaan perangkat digital, sumber informasi kesehatan, tingkat kepercayaan, serta kemampuan mengevaluasi informasi kesehatan. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, Hasil penelitian menunjukkan bahwa 89,1% responden menggunakan internet sebagai sumber utama informasi kesehatan, dengan 95,5% menggunakan telepon genggam sebagai perangkat utama. Mesin pencari menjadi platform paling dominan (88,2%). Namun, sebanyak 58,2% responden masih mengalami kesulitan dalam menilai kredibilitas informasi kesehatan online. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi digital memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku pencarian informasi kesehatan, namun belum diimbangi dengan kemampuan literasi kesehatan digital yang memadai. Analisis inferensial mengindikasikan karakteristik responden dengan pola pencarian dan evaluasi informasi kesehatan. Saran yang dapat diberikan adalah perlunya peningkatan edukasi literasi kesehatan digital melalui pendekatan komunitas gereja, serta peran aktif tenaga keperawatan dalam membimbing jemaat agar lebih kritis dalam menilai informasi kesehatan yang diperoleh secara online.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Merelyn Palangan https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1544 HUBUNGAN DURASI DAN LAMA KERJA SERTA POSISI PERGELANGAN TANGAN DENGAN KELUHAN CARPAL TUNNEL SYNDROME PADA PENGEMUDI OJEK DI AIRMADIDI 2026-04-17T04:00:45+00:00 Dea Natalia Pangalila s22020035@student.unklab.ac.id I Gede Purnawinadi purnawinadi87@unklab.ac.id <p><em>Carpal tunnel syndrome is a musculoskeletal disorder of the wrist caused by pressure on the median nerve in the carpal tunnel, causing pain, tingling, and numbness. Motorcycle taxi drivers are at risk of developing CTS due work, working duration, and poor wrist posture. The purpose of this study was to determine whether there is a significant relationship between work tenure, duration of work, and wrist position with CTS among motorcycle taxi drivers in Airmadidi. This study used a descriptive correlation method with a cross-sectional approach. The population was motorcycle taxi drivers actively working in the Airmadidi area. The sample size of 84 respondents who met the criteria was obtained using accidental sampling. The measuring instruments used were a questionnaire with proven validity and reliability and the Rapid Upper Limb Assessment (RULA) to measure wrist position. Data were analyzed using the Spearman Rank formula due to non-normal distribution. The analysis results showed no significant association between work tenure (p=0.100), work duration (p=0.278), and wrist position (p=0.245) and CTS complaints. The conclusion is that there is no significant association between work tenure, work duration, and wrist position and CTS complaints among motorcycle taxi drivers in Airmadidi. Further research is recommended to examine other factors potentially associated with CTS complaints, such as Body Mass Index (BMI), medical history, use of Personal Protective Equipment (PPE), and other ergonomic risk factors.</em></p> <p><em> </em>Sindrom terowongan karpal sebagai gangguan muskuloskeletal pada pergelangan tangan akibat tekanan pada saraf medianus di terowongan karpal, yang menimbulkan nyeri, kesemutan, dan kebas. Pengemudi ojek berisiko mengalami CTS karena lama kerja, durasi berkendara, dan postur pergelangan tangan yang tidak ergonomis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara lama kerja, durasi kerja, dan posisi pergelangan tangan dengan keluhan CTS pada pengemudi ojek di Airmadidi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pengendara ojek yang aktif bekerja di wilayah Airmadidi. Sampel penelitian ini sebanyak 84 responden yang memenuhi kriteria dan diperoleh dengan menggunakan teknik <em>Accidental Sampling</em>. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya serta <em>Rapid Upper Limb Assessment</em> (RULA) untuk mengukur posisi pergelangan tangan. Data dianalisis menggunakan rumus Spearman Rank karena distribusi data tidak normal. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara lama kerja (p=0,100), durasi kerja (p= 0,278), posisi pergelangan tangan (p=0,245) dengan keluhan CTS. Kesimpulannya adalah tidak ada hubungan yang signifikan antara lama kerja, durasi kerja, posisi pergelangan tangan dengan keluhan CTS pada pengemudi ojek di Airmadidi. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang berpotensi berhubungan dengan keluhan CTS, seperti Indeks Massa Tubuh (IMT), riwayat penyakit, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), serta faktor risiko ergonomis lainnya.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Dea Natalia Pangalila, I Gede Purnawinadi https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1532 HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DAN KUALITAS TIDUR DALAM MENYELESAIKAN SKRIPSI MAHASISWA UNIVERSITAS KLABAT 2026-04-09T09:00:42+00:00 Ellen Padaunan ellenpadaunan@gmail.com Cindra Patricia Wendur Cindrawendur23@gmail.com <p><em>Sleep quality is a problem experienced by many students who are completing their thesis. One of the causes of poor sleep quality is anxiety. This study aims to determine the relationship between anxiety levels and sleep quality in completing thesis of Klabat University students. The research design used is descriptive correlation with a cross-sectional approach with convenience sampling technique Sampling on 181 respondents. The results obtained that the majority of students who are completing their thesis at Klabat University have anxiety in the mild category, namely 92 students (50.8%) and the quality of sleep in students who complete their thesis at Klabat University is mostly in the category of poor sleep quality, namely 179 students (98.9%). The results of the correlation test that has been carried out using the statistical formula, namely Spearman Rho, obtained a p-value of 0.000, which means there is a significant relationship between anxiety levels and sleep quality in completing thesis of Klabat University students with a value of r = 0.276, which means that the two variables have a weak relationship but the direction of the relationship is positive and also means that the higher the level of anxiety, the worse the quality of sleep. Recommendations that researchers can provide for future researchers who wish to conduct similar research are to be able to conduct further research on what factors can influence the anxiety of students completing their theses.</em></p> <p><em>Kualitas tidur adalah masalah yang dialami oleh banyak mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Salah satu penyebab kualitas tidur buruk yaitu kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada hubungan antara tingkat kecemasan dan </em>kualitas<em> tidur dalam menyelesaikan skripsi mahasiswa Universitas Klabat. Desain penelitian yang dilakukan adalah </em>deskriptif<em> korelasi dengan pendekatan cross-sectional dengan teknik convenience sampling Sampling pada 181 responden. Hasil yang didapat bahwa mayoritas mahasiswa yang sedang menyelesaikan skrpsi di Universitas Klabat memiliki Kecemasan yang berkategori tingkat ringan yaitu 92 mahasiswa </em>(50,88%) <em>dan kualitas tidur pada mahasiswa yang menyelesaikan skripsi di Universitas Klabat mayoritas berada pada kategori kualitas tidur yang buruk yaitu 179 mahasiswa (98,9%). Hasil uji korelasi yang sudah dilakukan menggunakan rumus statistik yaitu Spearman Rho didapatkan didapati p-value 0,000 yang berartinya ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dan </em>kualitas <em>tidur dalam menyelesaikan skripsi mahasiswa Universitas Klabat dengan nilai r= 0,276 yang artinya kedua variabel memiliki hubungan yang lemah tapi arah hubungannya yang positif atau semakin tinggi tingkat kecemasan maka semakin buruk kualitas tidur. Rekomendasi yang dapat diberikan peneliti bagi peneliti selanjutnya yaitu melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor apa saja yang bisa mempengaruhi kecemasan mahasiswa yang menyelesaikan skripsi</em>.</p> <p><strong><em> </em></strong></p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ellen Padaunan https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1527 ANALISIS RISIKO KELUHAN MUSKULOSKELETAL DISORDERS (MSDS) PADA PETANI KELAPA DI DESA X 2026-04-11T10:17:49+00:00 Ailine Yoan Sanger ailinesanger@unklab.ac.id Putri Paat s11910251@student.unklab.ac.id <p><em>Musculoskeletal complaints are disorders affecting the muscles, bones, ligaments, tendons, joints, and other supporting tissues. Persistent complaints can interfere with daily routines, impacting workers’ productivity and quality of life. The objective of this study was to determine significant differences in MSD complaints among coconut farmers based on age, gender, length of service, and work duration. This study employed a quantitative method using a descriptive analytical design with a cross-sectional approach. The instrument used in this study is the Nordic Body Map (NBM) to measure MSDs. The results revealed significant differences in MSD complaints by gender; there were significant differences in MSD complaints based on age group; and significant differences in MSD complaints based on length of service; however, no significant differences were found in MSD complaints based on work duration. Recommendations were made to provide ergonomics education to agricultural workers, particularly for women, who have lower muscle strength than men. Stretching during work breaks is also important, especially for older workers, to help reduce MSD complaints. </em></p> <p>Keluhan muskuloskeletal merupakan gangguan yang terjadi pada otot, tulang, ligamen, tendon, persendian maupun jaringan pendukung lainnya yang. Keluhan yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu kegiatan rutinitas sehari-hari, berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup pekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan pada keluhan MSDs pada petani kelapa berdasarkan usia, jenis kelamin, masa kerja dan durasi kerja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis desain analitik deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Nordic Body Map (NBM). Hasil penelitian ini didapati perbedaan yang signifikan pada keluhan MSDs dalam jenis kelamin, terdapat perbedaan keluhan MSDs yang signifikan berdasarkan kelompok usia, terdapat perbedaan yang signifikan pada keluhan MSDs ditinjau dari masa kerja, namun tidak didapati perbedaan yang signifikan dalam keluhan MSDs berdasarkan durasi kerja. Rekomendasi diberikan agar edukasi ergonomi dapat diberikan kepada pekerja petani apalagi untuk jenis kelamin wanita dengan masa otot yang lebih rendah daripada laki-laki. Peregangan disela-sela pekerjaan juga penting apalagi bagi pekerja dengna usia yang lebih tua, untuk membantu mengurangi keluhan MSDs.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ailine Yoan Sanger, Putri Paat https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1525 EFEK ORAL CRYOTHERAPY TERHADAP MUKOSITIS ORAL PADA PASIEN KANKER 2026-04-07T05:41:30+00:00 Yenni Ferawati Sitanggang yenni.sitanggang@uph.edu Poppy Wulandari poppysidauruk98@gmail.com Riana rianariana0704@gmail.com Velia Putri Setiawan veliaputri34@gmail.com Erivita Sakti erivita.sakti@uph.edu <p><em>Background: Cancer is one of the deadliest chronic diseases in the world. Chemotherapy is often the main choice in cancer treatment. Chemotherapy has side effects, one of which is oral mucositis. Oral cryotherapy significantly contributes to protecting oral health and preventing mucositis. Objective: This study aimed to analyze the effect of oral cryotherapy on oral mucositis in cancer patients. Methods: This study uses the literature review method by including a critical appraisal. The inclusion criteria used were research journals published in the last ten years 2009-2019, articles in Indonesian and English with free-text and full-text search results and articles discussing cancer patients with oral mucositis. The study discussed the effect of oral cryotherapy on oral mucositis in cancer patients. The exclusion criteria were systematic review articles, literature reviews, and articles with a sample size of ≤ 20 respondents. Results: Based on six articles, it was concluded that oral cryotherapy is effective in reducing the severity of oral mucositis, reducing its incidence, alleviating pain, and providing comfort in the oral cavity. Suggestion: Oral cryotherapy intervention can be applied consistently in a hospital and evaluated regularly.</em></p> <p><em> </em>Kanker merupakan salah satu penyakit kronis yang mematikan di dunia. Kemoterapi seringkali menjadi pilihan utama dalam pengobatan kanker. Kemoterapi memiliki efek samping, salah satunya adalah mukositis oral. <em>Oral cryotherapy</em> memiliki kontribusi signifikan terhadap perlindungan kesehatan mulut guna untuk mencegah mukositis. Studi ini bertujuan untuk menganalisis efek <em>oral cryotherapy</em> terhadap mukositis oral pada pasien kanker. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur dengan mencantumkan <em>critical appraisal</em>. Kriteria inklusi yang digunakan adalah jurnal penelitian yang dipublikasikan dalam sepuluh tahun terakhir (2009–2019), artikel dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan hasil pencarian <em>free-text</em> dan <em>full-text</em>, serta artikel yang membahas pasien kanker dengan mukositis oral. Studi yang dibahas adalah tentang efek <em>oral cryotherapy</em> terhadap mukositis oral pada pasien kanker. Kriteria eksklusi yang digunakan adalah artikel <em>systematic review dan literature</em> review. Berdasarkan enam artikel, disimpulkan bahwa efek <em>oral cryotherapy</em> terhadap mukositis oral pada pasien kanker dapat mengurangi keparahan mukositis, mengurangi insiden mukositis oral, mengurangi rasa nyeri dan memberikan rasa nyaman pada rongga mulut. Saran: Intervensi <em>oral cryotherapy</em> dapat diterapkan di rumah sakit secara konsisten dan dievaluasi secara berkala.</p> <p> </p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Yenni Ferawati Sitanggang https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1524 HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN DISMENORE PADA MAHASISWI KEPERAWATAN 2026-04-14T02:09:48+00:00 Nanda Manulang efaa1502@gmail.com Mutiara Wahyuni Manoppo mutiaramanoppo@unklab.ac.id <p><em>Dysmenorrhea is a common menstrual pain that frequently disrupts the daily activities and productivity of university students. Although primary dysmenorrhea is common, the intensity of the pain is highly influenced by lifestyle factors, particularly dietary patterns. The consumption of foods high in fat, sugar, and monosodium glutamate (MSG) is known to trigger an increase in prostaglandin hormones, which exacerbates uterine contractions. Conversely, the intake of fiber, vitamins, and plant-based proteins plays a role in regulating these hormones. However, the tendency to consume unhealthy foods among students remains high, necessitating research to map its impact on the incidence of dysmenorrhea. The purpose of this study was to determine the relationship between dietary patterns and dysmenorrhea. This study employed a quantitative research design with a cross-sectional approach. Dietary patterns were assessed using a questionnaire, while the level of dysmenorrhea pain was measured using the Numerical Rating Scale (NRS). The participants were first-year nursing students at Universitas Klabat. The results indicated that the majority of nursing students at Universitas Klabat had poor dietary patterns and suffered from severe menstrual pain with an NRS score of 8–10. The statistical analysis yielded a p-value of 0.527 (&gt; 0.05), indicating no significant relationship between dietary patterns and dysmenorrhea. These findings provide a contribution and recommendation for future researchers to utilize more specific dietary assessment instruments—focusing on food types that trigger prostaglandin elevation—as well as to investigate unstudied variables such as physical activity and stress factors, while simultaneously providing education on improving unhealthy dietary habits.</em></p> <p><em> </em>Dismenore merupakan nyeri menstruasi yang sering mengganggu aktivitas harian dan produktivitas mahasiswi. Meskipun dismenore primer umum terjadi, intensitas nyeri sangat dipengaruhi oleh faktor gaya hidup, terutama pola makan. Konsumsi makanan tinggi lemak, manis, dan mengandung MSG diketahui memicu peningkatan hormon prostaglandin yang memperparah kontraksi rahim. Sebaliknya, asupan serat, vitamin, dan protein nabati berperan dalam mengontrol hormon tersebut. Namun, kecenderungan konsumsi makanan tidak sehat di kalangan mahasiswa masih tinggi, sehingga diperlukan penelitian untuk memetakan pengaruhnya terhadap kejadian dismenore. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pola makan dan dismenore. Desain yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dengan instrumen untuk pola makan yang digunakan yaitu kuesioner dan untuk mengukur tingkat nyeri dismenore yaitu menggunakan NRS. Responden yang terlibat yaitu mahasiswi keperawatan tingkat 1 di Universitas Klabat. Hasil yang didapatkan bahwa gambaran pola makan pada Mahasiswi fakultas Keperawatan di Universitas Klabat mayoritas memiliki pola makan yang kurang baik dan mayoritas mengalami nyeri haid berat dengan skala nyeri yaitu 8-10 serta p-value 0,527 &gt; 0,05 yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara pola makan dan dismenore. Hal ini memberikan kontribusi dan rekomendasi bagi peneliti berikutnya untuk menggunakan instrumen pola makan yang lebih spesifik mengenai jenis makanan yang memicu peningkatan prostaglandin serta menambahkan atau meneliti variabel yang belum diteliti seperti aktivitas fisik dan faktor stres serta memberikan edukasi untuk peningkatan pola makan yang kurang baik.perlu diperhatikan sebagai langkah pencegahan peningkatan kadar lipid, glukosa dan hiperurisemia</p> <p> </p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Nanda Manulang, Mutiara Wahyuni Manoppo https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1519 PENGARUH PENGGUNAAN MATRAS DEKUBITUS TERHADAP KEJADIAN LUKA TEKAN PADA PASIEN IMOBILISASI 2026-03-25T08:19:01+00:00 Andreas Rantepadang rantepadang@unklab.ac.id Stheysie Ega Michelle Pangkey rantepadang@unklab.ac.id <p><em>Patients who are immobilized for long periods of time without prevention measures can develop pressure ulcers. Pressure ulcers in patients will result in increased treatment costs, longer treatment times, pain, and an increased risk of death. Prevention measures are necessary, such as the use of pressure ulcer mattresses. This study aims to analyze the effect of using a decubitus mattress on the incidence of pressure ulcers in immobilized patients. The research method is quantitative with a quasi-experimental design using a two-group pretest-posttest with control group design. The research sample consisted of 30 immobilized patients at one of the hospitals in North Minahasa, selected using purposive sampling. The research instrument used was a pressure ulcer severity observation sheet. The results of the study using the Mann-Whitney U test showed a p-value of 0.579, which concluded that there was no effect of the use of decubitus mattresses on the incidence of pressure ulcers in immobilized patients. Recommendations for future researchers include increasing the sample size and extending the intervention period. Researchers should also investigate the factors that influence the incidence of pressure ulcers.</em></p> <p><em> </em>Pasien dengan keadaan imobilisasi dalam waktu yang lama dan tidak dilakukan pencegahan dapat menyebabkan terjadinya luka tekan. Luka tekan yang terjadi pada pasien akan berdampak pada penambahan biaya perawatan, waktu perawatan yang lebih lama, rasa nyeri sampai pada meningkatkan risiko kematian pada pasien. Pencegahanpun butuh untuk dilakukan seperti penggunaan alat yaitu matras dekubitus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan matras dekubitus terhadap kejadian luka tekan pada pasien imobilisasi. Metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian quasi eksperimental dengan pendelatan two group pretest-posttest with control group design. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien imobilisasi di salah satu rumah sakit di Minahasa Utara yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian ini yaitu dengan lembar observasi derajat luka tekan. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis Mann whitney u test didapati hasil p-value 0,579 dimana disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh penggunaan matras dekubitus terhadap kejadian luka tekan pada pasien imobilisasi. Rekomendasi untuk peneliti selanjutnya kiranya dapat menambahkan jumlah sampel penelitian dan menambah waktu intervensi serta meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruh kejadian luka tekan.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 andreas rantepadang https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1512 DETERMINANTS OF HEALTH-RELATED QUALITY OF LIFE IN PATIENTS WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE: A COMPREHENSIVE ANALYSIS OF DEMOGRAPHIC, CLINICAL, AND BEHAVIORAL FACTORS 2026-04-07T07:13:19+00:00 Denny Maurits Ruku rukudenny28@gmail.com <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Chronic kidney disease (CKD) significantly impairs health-related quality of life (HRQOL); however, global evidence regarding its determinants remains limited and fragmented. This study aimed to examine the combined effects of demographic, clinical, and behavioral factors on HRQOL among individuals with CKD. A cross-sectional study design was employed using secondary data obtained from the Kaggle dataset, involving 1,524 participants. HRQOL was analyzed in relation to demographic characteristics, clinical indicators, and behavioral factors. Statistical analyses included descriptive statistics, Pearson correlation, independent t-test, one-way ANOVA, and multiple linear regression. HRQOL was significantly negatively correlated with age (r = −0.58), body mass index (r = −0.06), alcohol consumption (r = −0.92), systolic blood pressure (r = −0.45), fasting blood sugar (r = −0.31), total cholesterol (r = −0.28), and low-density lipoprotein (LDL) (r = −0.23). In contrast, HRQOL was positively associated with physical activity (r = 0.98) and high-density lipoprotein (HDL) (r = 0.40). No significant associations were observed with gender, ethnicity, education level, or diabetes status. In multivariate analysis, physical activity emerged as the strongest positive predictor (β = 0.75, p &lt; .001), while alcohol consumption was the strongest negative predictor (β = −0.18, p &lt; .001), alongside age, diastolic blood pressure, total cholesterol, and LDL. The final model explained 97.8% of the variance in HRQOL (R² = 0.978). HRQOL in CKD is influenced by a complex interplay of demographic, clinical, and behavioral factors, with behavioral factors—particularly physical activity and alcohol consumption—playing a dominant role. An integrated, patient-centered approach is essential to improve HRQOL outcomes in this population.</em></p> <p><em> </em></p> <p> </p> <p> </p> <p>Penyakit ginjal kronis (PGK) secara signifikan memengaruhi health-related quality of life (HRQOL), namun bukti yang ada mengenai faktor prediktornya masih terbatas secara global. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh gabungan dari faktor demografis, klinis, dan perilaku terhadap HRQoL pada individu dengan PGK. Desain Cross sectional study dilakukan menggunakan data sekunder dari Kaggle, yang melibatkan 1524 peserta. HRQOL dianalisis dalam kaitannya dengan karakteristik demografis, indikator klinis, dan faktor perilaku. Analisis statistik deskriptif, Pearson correlation, t-test, ANOVA, dan multiple linear regression digunakan dalam analisis. HRQOL secara signifikan negative terkait dengan usia (r = -0,58), index masa tubuh (r = 0,05), konsumsi alkohol (r = -0,92), systolic (r = -0,45), fasting blood sugar (r = -0,31), cholesterol (r = -0,28), low-density lipoprotein (LDL) (r = -0,23); Sedangkan HRQOL positive significant dengan aktifitas fisik (r = 0,98), dan high-density lipoprotein (HDL) (r = 0,40); Namun, tidak memiliki hubungan yang significant dengan jenis kelamin, etnis, education, dan Riwayat diabetes. Dalam analisis multivariat, aktivitas fisik muncul sebagai prediktor positif terkuat (β = 0,75, p &lt; 0,001), selain systolic, FBS, HDL dan trigliseride; Sedangkan konsumsi alkohol (β = -0,18, p &lt; 0,001) merupakan predictor negative terkuat selain usia, diastolic, cholesterol, LDL yang merupakan predictor dari HRQOL pasien PGK. Model akhir menjelaskan 97,8% varians dalam HRQOL (R² = 0,978). HRQOL pada PGK dipengaruhi oleh kombinasi faktor demografis, klinis, dan perilaku, dengan aktivitas fisik memainkan peran dominan. Pendekatan terintegrasi sangat penting untuk meningkatkan hasil yang berpusat pada pasien.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Denny Maurits Ruku https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1507 ANALISA HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU MENGENAI STUNTING DENGAN POLA PEMBERIAN MAKANAN PADA BALITA DI DESA KAPITU 2026-03-31T02:09:16+00:00 Deloners Roong delonroong1945@gmail.com Mutiara Wahyuni Manoppo mutiaramanoppo@unklab.ac.id <p><em>Stunting remains a significant health issue in Indonesia, particularly among children under five years of age. One of the important factors in preventing stunting is mothers’ knowledge about this condition, especially regarding appropriate feeding practices. This study aims to analyze the relationship between mothers’ knowledge of stunting and feeding patterns among toddlers in Kapitu Village. This research used a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The sampling technique was total sampling, involving 79 mothers who have children aged 6–59 months. The instrument used was a questionnaire assessing mothers’ knowledge of stunting and feeding practices. The results showed that most mothers had a moderate level of knowledge (39.2%), and the majority also applied appropriate feeding practices (88.6%). Statistical analysis using the Spearman Rank test indicated a significant relationship between mothers’ knowledge of stunting and feeding patterns among toddlers, with a p-value of 0.001 &lt; 0.05. This study recommends enhancing maternal education regarding stunting to strengthen their understanding in supporting healthy and appropriate feeding practices for toddlers. Future research is recommended to further examine factors such as education, family economic status, parental attitudes, and level of care.</em></p> <p><em> </em>Masalah stunting masih menjadi isu kesehatan yang signifikan di Indonesia, khususnya pada anak usia di bawah lima tahun. Salah satu faktor yang berperan penting dalam pencegahan stunting adalah pengetahuan ibu mengenai kondisi ini, terutama dalam hal pola pemberian makanan yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisa hubungan pengetahuan ibu mengenai stunting dengan pola pemberian makanan pada balita di Desa Kapitu. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling. Sampel terdiri dari 79 ibu yang memiliki anak usia 6-59 bulan. Instrument yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan ibu mengenai stunting dengan pola pemberian makanan. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki pengetahuan cukup (39,2%) dan sebagian besar juga menerapkan pola pemberian makanan yang tepat (88,6%). Uji statistic menggunakan Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dengan pola pemberian makanan pada balita dangan p value 0,001 &lt; 0,05. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan edukasi ibu mengenai stunting guna memperkuat pemahaman mereka dalam menunjang praktik pemberian makan yang sehat dan tepat pada balita. Rekomendasi yang perlu di teliti lebih lanjut dalam penelitian selanjutnya adalah faktor seperti pendidikan, ekonomi keluarga, sikap dan kepedulian orang tua.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Deloners Roong https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1504 RESPECTFUL NURSING PRACTICE: A CONCEPT ANALYSIS USING THE WALKER AND AVANT METHOD 2026-03-22T07:21:43+00:00 Reagen Jimmy Mandias rmandias@unklab.ac.id Lea Andy Shintya lea@unklab.ac.id <p><em>Respectful nursing practice is a critical ethical foundation for preserving patient dignity, fostering trust, and improving health outcomes. Despite its centrality to nursing care, the concept of respectfulness remains variably defined and inconsistently operationalized across diverse clinical and organizational contexts. The present concept analysis used Walker and Avant’s method to clarify the concept of respectful nursing. A comprehensive literature review was conducted to identify the concept’s uses, defining attributes, antecedents, consequences, and empirical referent. Walker and Avant's iterative eight-step concept analysis method was employed. A comprehensive literature review was conducted. Thematic analysis was used to extract defining attributes, antecedents, consequences, and empirical referents. The analysis identified three core defining attributes: (1) effective communication characterized by clarity and empathy, (2) empathic presence and emotional atonement, and (3) active listening with genuine engagement. Antecedents included nurses' awareness of individual patient needs and preferences, meaningful family involvement, collegial collaboration, and demonstrated professional conduct. Consequences encompassed improved clinical outcomes, elevated patient satisfaction and well-being, strengthened nurse-patient therapeutic relationships, and positive workplace climate for nurses. Four validated instruments were identified: the Respect Scale, Workplace Respect Climate Self-Assessment, the 15-item Respectful Maternity Care Scale, and the Respectful Care Scale. This concept analysis provides a robust conceptual foundation to guide the development of evidence-based interventions, comprehensive educational strategies, and organizational practice standards that prioritize respect within nursing care. Implementation of these findings can enhance patient-centered care delivery and foster healthy work environments.</em></p> <p>Praktik keperawatan yang penuh rasa <em>respecful</em> adalah dasar etika yang penting untuk menjaga martabat pasien, membangun kepercayaan, dan meningkatkan hasil kesehatan. Meskipun konsep <em>respecful </em>sangat penting dalam perawatan keperawatan, konsep tersebut tetap didefinisikan secara bervariasi dan dioperasionalkan secara tidak konsisten di berbagai konteks klinis dan organisasi. Analisis konsep saat ini menggunakan metode Walker dan Avant untuk memperjelas konsep perawatan keperawatan yang <em>respecful</em>. Tinjauan literatur yang komprehensif dilakukan untuk mengidentifikasi penggunaan konsep, atribut definisi, <em>antecedent</em>, konsekuensi, dan referen empirisnya. Metode analisis konsep delapan langkah iteratif Walker dan Avant diterapkan. Sebuah tinjauan pustaka yang komprehensif telah dilakukan. Analisis tematik digunakan untuk mengekstrak atribut definisi, anteceden, konsekuensi, dan referen empiris. Analisis tersebut mengidentifikasi tiga atribut inti yang mendefinisikan: (1) komunikasi efektif yang ditandai dengan kejelasan dan empati, (2) kehadiran empatik dan penyesuaian emosional, dan (3) mendengarkan aktif dengan keterlibatan yang tulus. Anteceden termasuk kesadaran perawat terhadap kebutuhan dan preferensi individu pasien, keterlibatan keluarga yang bermakna, kolaborasi sejawat, dan perilaku profesional yang ditunjukkan. Konsekuensi mencakup hasil klinis yang lebih baik, peningkatan kepuasan dan kesejahteraan pasien, penguatan hubungan terapeutik antara perawat dan pasien, serta iklim tempat kerja yang positif bagi perawat. Empat instrumen yang telah divalidasi diidentifikasi: <em>Respect Scale, Workplace Respect Climate Self-Assessment, dan Respectful Maternity Care Scale</em>. Analisis konsep ini memberikan dasar konseptual yang kuat untuk membimbing pengembangan intervensi berbasis bukti, strategi pendidikan komprehensif, dan standar praktik organisasi yang memprioritaskan rasa hormat dalam perawatan keperawatan. Implementasi temuan ini dapat meningkatkan penyampaian perawatan yang berpusat pada pasien dan mendorong lingkungan kerja yang sehat.</p> <p> </p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Reagen Jimmy Mandias https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1500 HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KESEJAHTERAAN SPIRITUAL MAHASISWA KEPERAWATAN 2026-03-09T02:06:18+00:00 Joel Marcelino Wewengkang Wewengkangjoel@gmail.com Yunita Tappy Yunita@unklab.ac.id <p><em>Nursing students are prepared to become professional nurses; however, during their education, they face various academic, emotional, social, and spiritual challenges that can impact their overall well-being. Social support and spiritual well-being are considered essential in helping students navigate these difficulties. This study aimed to analyze the relationship between social support and spiritual well-being among nursing students. A descriptive correlational design with a cross-sectional approach was employed. Sampling was conducted using quota sampling, selecting 25% of students from each academic level (Levels 1–4) at the Faculty of Nursing, Universitas Klabat, resulting in a total of 153 respondents. Data were collected in March 2025 using the Spiritual Well-Being Scale (SWBS) and the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Data analysis using Pearson correlation revealed a significant negative relationship between social support and spiritual well-being (r = -0.159; p = 0.048). These findings suggest that although students may receive social support, their spiritual well-being is more strongly influenced by their personal relationship with God. Further research utilizing qualitative approaches is recommended to explore in depth how individuals perceive and experience the connection between social support and spiritual well-being in their daily lives</em><em>. </em></p> <p>Mahasiswa keperawatan dipersiapkan menjadi tenaga profesional yang kompeten, namun selama masa pendidikan mereka menghadapi berbagai tekanan akademik, emosional, sosial, dan spiritual yang dapat mempengaruhi kesejahteraan mereka. Dukungan sosial dan kesejahteraan spiritual dinilai berperan penting dalam membantu mahasiswa mengelola tantangan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan kesejahteraan spiritual pada mahasiswa keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan<em> cross-sectional</em>. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode <em>quota sampling</em> sebanyak 25% dari setiap tingkat (tingkat 1 hingga 4) di Fakultas Keperawatan Universitas Klabat, dengan jumlah responden sebanyak 153 orang. Data dikumpulkan pada bulan Maret 2025 menggunakan instrumen Spiritual Well-Being Scale (SWBS) dan <em>Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS)</em>. Analisis data menggunakan uji <em>Pearson correlation</em> menunjukkan adanya hubungan signifikan antara dukungan sosial dan kesejahteraan spiritual dengan arah korelasi negatif (r = -0,159; p = 0,048). Hasil ini mengindikasikan bahwa meskipun mahasiswa menerima dukungan sosial, kesejahteraan spiritual mereka lebih dipengaruhi oleh hubungan personal mereka dengan Tuhan. Diperlukan penelitian lanjutan dengan pendekatan kualitatif untuk menggali secara mendalam dinamika pengalaman individu terkait hubungan dukungan sosial dan kesejahteraan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.</p> <p> </p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Joel Marcelino Wewengkang, Yunita Tappy https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1497 ANALISIS PERILAKU MEROKOK DENGAN KESEHATAN MENTAL REMAJA DI SALAH SATU SEKOLAH MENENGAH ATAS MINAHASA UTARA 2026-04-13T01:27:19+00:00 Cherol Nelson Ering cherolering11@gmail.com Meylani A'naabawati meylanibawati@gmail.com Happy Christania Turangan tangel295@gmail.com Angelia Friska Tendean angelia.tendean@unklab.ac.id <p><em>Smoking behavior among adolescents remains a public health problem both globally and nationally. Adolescence is a developmental period that is vulnerable to environmental influences and psychological changes, thereby increasing the risk of smoking behavior and mental health disorders. This study aimed to analyze the relationship between smoking behavior with adolescent mental health in one Senior High School (SMA) in North Minahasa. This research employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all eleventh-grade students, and a total sampling technique was applied, resulting in 207 respondents. Smoking behavior was measured using the standardized questionnaire from the Basic Health Research (Riset Kesehatan Dasar), while mental health was assessed using the Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Data analysis was conducted using the Chi-Square test. The results showed that 62.3% of respondents were non-smokers, while 37.7% were smokers. A total of 53.6% of respondents experienced emotional mental health problems. The Chi-Square test yielded a p-value of 0.736 (p &gt; 0.05), indicating that there was no significant relationship between smoking behavior and adolescent mental health. In conclusion, although the proportion of mental health problems was relatively high, smoking behavior was not significantly associated with mental health among the study sample. Further research using a longitudinal design and controlling for potential confounding variables is recommended to better understand the comprehensive relationship between these two variables.</em></p> <p><em> </em>Perilaku merokok pada remaja masih menjadi masalah kesehatan masyarakat baik secara global maupun nasional. Masa remaja merupakan periode perkembangan yang rentan terhadap pengaruh lingkungan dan perubahan psikologis, sehingga berpotensi meningkatkan risiko perilaku merokok dan gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku merokok dengan kesehatan mental remaja di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Minahasa Utara. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI dengan teknik total sampling, sehingga diperoleh 207 responden. Perilaku merokok diukur menggunakan kuesioner baku Riset Kesehatan Dasar, sedangkan kesehatan mental diukur menggunakan Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,3% responden tidak merokok dan 37,7% merokok. Sebanyak 53,6% responden mengalami gangguan kesehatan mental emosional. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,736 (p &gt; 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok dan kesehatan mental remaja. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun proporsi gangguan kesehatan mental cukup tinggi, perilaku merokok tidak berhubungan secara signifikan dengan kesehatan mental pada sampel penelitian ini. Disarankan penelitian lanjutan dengan desain longitudinal dan kontrol variabel perancu untuk memahami hubungan yang lebih komprehensif antara kedua variabel tersebut.</p> <p> </p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Cherol Nelson Ering, Meylani A'naabawati, Happy Christania Turangan, Angelia Friska Tendean https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1496 PERBANDINGAN STATUS FUNGSIONAL SAAT MASUK ANTARA PASIEN DEWASA DENGAN HIPERTENSI, DIABETES, STROKE, DAN TUBERKULOSIS 2026-03-09T02:03:16+00:00 Elisa Anderson aelisa@unklab.ac.id Arlien J Manoppo arlienmanoppo@unklab.ac.id <p><em>Hypertension, diabetes mellitus, stroke, and tuberculosis are the main chronic diseases in adults in Indonesia and have an impact on functional status decline, but functional comparisons between these diseases upon admission to the hospital are rarely studied. This study aims to compare the functional status upon admission of adult patients with these four diseases in a hospital in North Sulawesi using the Katz Index. The study design was cross-sectional with convenience sampling of 206 adult patients who met the inclusion criteria. Functional status was assessed using the Katz Index, analyzed descriptively and with the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests. The highest mean functional scores were found in hypertension (3.89) and DM (3.66), followed by TB (3.06), and the lowest in stroke (2.31), with significant differences between groups (p = 0.001); further tests showed significant differences between stroke vs. hypertension/DM and between hypertension vs. TB. It was concluded that the type of disease was closely related to the level of independence in activities of daily living, with stroke being the most vulnerable group to disability. This study recommends the routine application of the Katz Index assessment upon admission and the development of disease-specific function-based nursing care protocols to maintain or improve patient independence.</em></p> <p>Hipertensi, diabetes melitus, stroke, dan tuberkulosis merupakan beban utama penyakit kronis pada dewasa di Indonesia dan berdampak pada penurunan status fungsional, namun perbandingan fungsional antar penyakit ini saat masuk rawat inap masih jarang dikaji. Penelitian ini bertujuan membandingkan status fungsional saat masuk pada pasien dewasa dengan keempat penyakit tersebut di sebuah rumah sakit di Sulawesi Utara menggunakan Katz Index. Desain penelitian adalah potong lintang dengan teknik <em>convenience sampling</em> terhadap 206 pasien dewasa yang memenuhi kriteria inklusi. Status fungsional dinilai menggunakan Katz Index, dianalisis secara deskriptif dan dengan uji Kruskal‑Wallis serta Mann‑Whitney. Rata‑rata skor fungsional tertinggi terdapat pada hipertensi (3,89) dan DM (3,66), diikuti TB (3,06), dan terendah pada stroke (2,31), dengan perbedaan bermakna antar kelompok (p=0,001); uji lanjut menunjukkan perbedaan signifikan antara stroke vs hipertensi atau DM dan antara hipertensi vs TB. Disimpulkan bahwa jenis penyakit berkaitan erat dengan tingkat kemandirian aktivitas sehari‑hari, dengan stroke sebagai kelompok paling rentan disabilitas. Rekomendasi studi ini adalah penerapan penilaian Katz Index secara rutin saat masuk dan pengembangan protokol asuhan keperawatan berbasis fungsi yang spesifik per penyakit untuk mempertahankan atau meningkatkan kemandirian pasien.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Elisa Anderson, Arlien J Manoppo https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1494 PERSEPSI MAHASISWA KEPERAWATAN TERHADAP KEHAMILAN REMAJA: STUDI FENOMENOLOGI 2026-03-12T06:20:22+00:00 Lea Andy Shintya lea.shintya@gmail.com <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p> <p><em>Adolescent pregnancy is a complex global health problem, affecting the physical, psychological, and social dimensions of young mothers and infants. Although the epidemiology and health risks of teenage pregnancy have been well documented, limited understanding exists regarding nursing students' perceptions of this phenomenon and how these perceptions shape their readiness to provide professional care. The purpose of this study was to explore nursing students' perceptions and meanings of teenage pregnancy and how these perceptions influence their readiness to provide professional, supportive, and non-judgmental healthcare services. This study used a phenomenological design with 9 nursing students (aged 19-22 years) from a private university in North Minahasa, Manado, Indonesia. The sample was selected through a purposive sampling technique with the following criteria: nursing students who had direct personal experience with teenage pregnancy (through family, friends, or neighbours). Data were collected through semi-structured in-depth interviews and analyzed using Braun and Clarke's thematic analysis approach. Results: Four main themes emerged: (1) Emotional turmoil and personal concerns; (2) teenage pregnancy as a multidimensional health risk; (3) transformation of perspective from stigma to a holistic professional view; (4) internalization of values of caring and non-judgmental attitudes. In conclusion, nursing education serves as a transformative force in shifting attitudes from stigma to empathy. However, there is a gap between intention and practice, requiring concrete communication skills, social support, and ongoing training. Integrating education on stigma, social determinants of health, and therapeutic communication into the nursing curriculum is crucial.</em></p> <p> </p> <p>Kehamilan remaja merupakan masalah kesehatan global yang kompleks, mempengaruhi dimensi fisik, psikologis, dan sosial dari ibu muda dan bayi. Meskipun epidemiologi dan risiko kesehatan dari kehamilan remaja telah didokumentasikan dengan baik, pemahaman yang terbatas ada mengenai persepsi mahasiswa keperawatan tentang fenomena ini dan bagaimana persepsi tersebut membentuk kesiapan untuk memberikan perawatan profesional. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi persepsi dan makna kehamilan remaja menurut mahasiswa keperawatan serta bagaimana persepsi ini mempengaruhi kesiapan mereka untuk memberikan layanan kesehatan yang profesional, mendukung, dan tanpa menghakimi. Penelitian ini menggunakan desain fenomenologi dengan 9 mahasiswa keperawatan (usia 19-22 tahun) dari sebuah universitas swasta di Minahasa Utara, Manado, Indonesia. Sampel dipilih melalui teknik purposive sampling dengan kriteria: mahasiswa keperawatan yang memiliki pengalaman pribadi langsung dengan kehamilan remaja (melalui keluarga, teman, atau tetangga) Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil: Empat tema utama muncul: (1) Gejolak emosional dan keprihatinan personal; (2) kehamilan remaja risiko kesehatan multidimensional (3) transformasi perspektif dari stigma ke pandangan holistik profesional ; (4) internalisasi nilai-nilai kepedulian dan sikap tidak menghakimi. Kesimpulan, pendidikan keperawatan berfungsi sebagai kekuatan transformatif dalam mengubah sikap dari stigma menjadi empati. Namun, terdapat kesenjangan antara niat dan praktik, yang memerlukan keterampilan komunikasi yang konkret, dukungan sosial, dan pelatihan berkelanjutan. Integrasi pendidikan stigma, determinan sosial kesehatan, dan komunikasi terapeutik ke dalam kurikulum keperawatan sangat penting.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Lea Andy Shintya https://ejournal.unklab.ac.id/index.php/kjn/article/view/1491 URIC ACID LEVELS BY GENDER IN THE COMMUNITY 2026-03-04T07:42:11+00:00 Toar Calvin Christo Paat toarpaat19@unsrat.ac.id Chelsea Iriani Windewani chelsea@unklab.ac.id Frendy Fernando Pitoy frendypitoy@unklab.ac.id <p>Uric acid is a metabolic health condition with a rising global prevalence and the potential to cause complications such as gout, arthritis, kidney disorders, and cardiovascular diseases. Sex is recognized as a key biological determinant influencing uric acid levels; however, community-based evidence in North Sulawesi remains limited. This study aimed to analyze and compare uric acid levels based on sex among community residents. A descriptive correlational study with a cross-sectional design was conducted among 226 respondents aged 40–50 years, selected purposively in Sarongsong 2 Village. Uric acid levels were measured using the Easy Touch 3-in-1 device after fasting. Descriptive statistics were used for univariate analysis, while differences between groups were assessed using the Mann–Whitney U test. The findings revealed that most male participants were hyperuricemic (51%), whereas most females were normouricemic (67.74%). The mean uric acid level in males (x̄ = 8.258; SD = 10.13975) was higher than in females (x̄ = 7.0460; SD = 10.05560). Statistical analysis showed a significant difference in uric acid levels between sexes (p &lt; 0.001). In conclusion, uric acid levels differ significantly by sex, with males exhibiting higher levels than females. These findings highlight the importance of sex-specific approaches in community-based prevention strategies. Future research should incorporate lifestyle-related risk factors and include postmenopausal women to better capture hormonal influences across the lifespan.</p> <p>Asam urat merupakan salah satu masalah kesehatan metabolik yang prevalensinya terus meningkat dan berpotensi menimbulkan komplikasi seperti gout arthritis, gangguan ginjal, serta penyakit kardiovaskular. Jenis kelamin diketahui sebagai faktor biologis yang memengaruhi kadar asam urat, namun data berbasis komunitas di Sulawesi Utara masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan nilai kadar asam urat berdasarkan jenis kelamin pada masyarakat Kelurahan Sarongsong 2. Penelitian ini menggunakan desain <em>descriptive correlation</em> dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel berjumlah 226 responden usia 40–50 tahun yang dipilih melalui <em>purposive sampling</em>. Pengukuran kadar asam urat dilakukan menggunakan alat Easy Touch 3-in-1 setelah responden berpuasa. Analisis <em>univariat</em> menggunakan <em>frekuensi, persentase, mean</em>, dan standar deviasi. Analisis bivariat dilakukan menggunakan <em>Mann-Whitney U test</em>. Hasil menunjukkan sebagian besar laki-laki berada pada kategori hiperurisemia (51%), sedangkan perempuan mayoritas berada pada kategori normourisemia (67,74%). Rerata kadar asam urat laki-laki (x=8.258; SD=10.13975) lebih tinggi dibandingkan perempuan (x=7.0460; SD=10.05560). Uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar asam urat berdasarkan jenis kelamin (p=0,000). Berdasarkan hasil, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan kadar asam urat antara laki-laki dan perempuan, di mana laki-laki cenderung memiliki kadar lebih tinggi. Direkomendasikan pada penelitian selanjutnya untuk mengkaji faktor risiko gaya hidup dan memasukkan perempuan menopause untuk analisis yang lebih komprehensif.</p> 2026-04-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Toar Calvin Christo Paat, Chelsea Iriani Windewani, Frendy Fernando Pitoy